Selasa, 30 September 2014


Kehidupan Manusia

Karya  :  Sahita Nurdiana

Kehidupan
Hidup senanatiasa
Kita harus berbuat kebaikan
Walaupun kebaikan kita tak diperdulikan
Kita harus menerimanya

Kehidupan
Kehidupan ini hanya saksi perbuatan kita
Kehidupan ini hanyalah sementara
Start kita ialah saa bayi
Finish kita ialah tua

Kehidupan
Kita hanya menopang di sini
Kita hanyalah minum makan di sini
Walau kita kaya, kita harus menolong
Walaupun kita miskin ,kita harus berusaha
Orang yang putus asa ialah orang lemot dan malas
Bintang disetiap langkah mu pasti ada



Agama Islam Mutiara

Islam
Islam  itu  indah
Tanpa islam kita  tak akan benar
Tanpa islam Indonesia berantakan

Islam
Islam ialah agama yang suci
Islam mengarjarkan akidah benar

Islam
Islam ialah agama mulia
Junjungan kita ialah Nabi Muhammad SAW
Tuhan kita Allah SWT
Islam
Agama yang tetua di dunia
Agama yang penuh pengorbanan pengabdian

Islam
Kitabnya Al-Qur’an Al- Karim
Agama penuh mutiara hikmah
Agama penuh cinta kasih sayang
Jagalah islam seperti menjaga dirimu sendiri
Pertahankan Islam selamanya

Ahklak Mulia
Karya  :  Sahita Nurdiana
Ahklak
Ialah bagian jiwa kita
Jagalah selalu agar tetap bersih
Jika ahklak tak dijaga
Apa jadinya
Hanya Ia yang bisa menyadarkan kita dari hati
Hanya Ia yang menjaga agar kita tak berpisah
Ahklak akan selalu berada di hati
Hati
Hati tempat ahklak tinggal menetap
Hati tempatnya bersandar
Hati tempatnya tinggal menjaga agar tetap bersatu
Jiwa
Jiwa tempat pelaksana
Tempat ahklak menentukan
Ahklak tak semua sempurna
Tak semua menguntungkan
Bahkan ada ahklak tidak sesuai kepribadian sebenarnya


Allah Tuhan Kita
Allah
Tuhan maha Esa
Tiada siapa menyamainya
Tuhan yang menciptakan kita
Allah
Maha kuasa atas jagat raya ini
Tanpanya kita semua tak ada
Batu,tanah,pasir,hingga planet-planet tak akan ada
Allah
Tempat kita menyembah
Tempat kita berserah diri
Tempat kita meminta
Tempat kita bersandar
Allah
Allah mengirimkan kita seorang rasul
Allah memberi setiap orang hidayah
Allah memberi riski kepada kita
Hanya kita tak sadar seberapa besarnya
Dalam Surat Ia (Allah) berfirman kepada kita


Matahari Penerang Dunia
Karya : Sahita Nurdiana
Matahari
Penerang dunia ini
Mha penciptanya sungguh agung
Tanpanya kita akan kegelapan selamanya
Matahari
Lampu dunia terbesar
Sebesar apapun lampu
Sebesar apapun wattnya takkan menandingi matahari
Matahari
Jika kau padam kami akan mati
Karna dunia berakhir
Karna itu
Kita harus memanfaatkannya dengan baik
Terimakasih Allah engkau telah memberi kami matahari
Yang bersinar tanpa garansi
Puji syukur ku panjat kan




Ibu
Karya  :  Sahita  Nurdiana
Ibu
Oh ibu jasamu kian besar bagiku
Kau melahirkan ku
Kau memmbesarkanaku
Kau ,penerang jiwaku
Oh Ibu
Dikala terbit matahari
Kau terbangun lebih awal dari ku
Kau menyiapkan energi untuk ku
Saat ku sakit kau kan memgobatiku
Oh Ibu
Surga di telapak kaki mu
Tanpamu tialah aku
Kau senandungku
Pengobat lukaku
Bidaariku
Penerang hidupku
Matahariku


Bayangan Jiwa
Karya : Sahita  Nurdiana
Dikala sore hari bayangan akan condong
Dikala pagi hari bayangan juga condomg
Dikala hidup tak berpegang teguh iman
Jiwa kan condong entah kemana
Kuatkanlah iman kita
Jiwa
Masi kah pantas kau tegak
Pasihkah pantas kau berdiri
Jika kau condong pasti iman tergugat
Jiwa
Menangislah jika kau salah berbuat
Iman
Jagalah jiwa agar bersatu selamanya walaupun sudah tiada di dunia
Jagalah agar tetap selalu  dalam keadaan yang mariangkan
Tuhan
Jagalah jiwa ini agar tetap fitri
Seperti setelah dilahirkan kembali



Banjr
Karya  ; Sahita Nurdiana
Banjir ...
Kau merusak segalnya
Kau buat semua merana
Sedih menangis sakit bahkan mennggal
Banjir ...
Berhentilah kau merajalela
Sakit menahan amarah mu
Membuatku  menjadi tak  berdaya menahan
Banjir ...
Berhentilah sampai di sini
Berhentilah ,berhentilah ,berhentilah
Aku mohon padamu
Jangan ,jangan ,jangan
Kau datang dengan muram
Tuhan ...
Aku mohon pada-Mu  sadarkanlah dia
Agar dia tidak menambah sakit  jiwa ini
Tolonglah  Tuhan Pencipta Alam


Malam ini
Malam ini malam gelap tanpa cahaya
Malam ketika aku sendiri tanpa teman
Ku duduk termenung sendiri  di suatu bangunan
Di pojok  kota tampak cahaya remang
Ku tatap langit  ku berteriak
“ Hai aku bertanya apakah ada kehidupan? “
Tiada satupun menjawab
Ku berteriak kembali
Oh  mengapa bisu , kulihat bintang hanya berkedip
Menatap ku sendiri
Mengapa  aku sediri tiadakah teman bagiku
Ku menangis meratapi diri
Ku bertanya apakah salah ku
Mengapa tiada yang menemaniku
Tuhan
Mengapa ku seperti ini
Tanpa kawan , tanpa teman , tanpa penyemangat hariku
Mengapa , mengapa ,mengapa
Walau ku sendiri benas tapi aku gelisah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar